Indonesia dianugerahi kekayaan alam dan budaya bahari yang beragam, sehingga menjadi modal penting untuk pengembangan wisata dan edukasi. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata telah menyusun rencana strategis guna mengoptimalkan potensi tersebut. Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pengunjung dan wisatawan nusantara sebanyak 275 juta pengunjung pada tahun 2019. Rencana tersebut diharapkan dapat menambah devisa negara sebanyak 280 triliun rupiah.

Meskipun demikian, pertumbuhan sektor pariwisata yang sangat pesat juga menimbulkan tekanan terhadap lingkungan sekitar. Pembangunan infrastruktur dan aktivitas wisatawan secara langsung mempengaruhi kualitas dan kuantitas potensi sumberdaya laut di lokasi wisata. Wisata bahari yang tidak memperhatikan kualitas lingkungan cepat atau lambat akan merugi dan tidak akan bertahan lama.

Oleh karena itu, keberlanjutan merupakan prinsip utama dalam pengembangan dan pengelolaan wisata bahari. Namun sayangnya, penerapan prinsip tersebut dalam wisata bahari belum banyak dikaji, seperti kapasitas maksimum yang diizikan (maximum allowable capacity) suatu lokasi wisata dalam menampung wisatawan. Kajian seperti ini penting untuk dilakukan sebagai timbangan ilmiah bagi pemangku kepentingan (summary for policy maker) untuk mengembangkan wisata bahari yang berkelanjutan.

Kelompok tema ini mencakup beberapa topik riset antara lain:

  1. Potensi ekosistem pesisir (seperti: mangrove, padang lamun, dan terumbu karang) untuk pengembangan wisata bahari dan edukasi
  2. Daya dukung lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil untuk pengembangan wisata bahari
  3. Potensi perikanan pesisir untuk wisata kuliner